1
  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Batu BatikamBatu Batikam, sebelum saya bicara mengenai Batu Batikam lebih jauh, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, Batu Batikam adalah batu (ter)tusuk. Mmm.., sederhananya batu yang sudah tertusuk / ditusuk. Secara logika, batu merupakan salah satu benda yang keras. Tetapi tidak heran jika Batu yang satu ini merupakan batu yang sudah di tusuk. Yah, batu yang dikenal dengan masyarakat lokal ataupun luar ini memang bernama Batu Batikam. Lokasi tepatnya berada di tepi jalan Nagari Lima Kaum, atau sekitar 10 menit dari Kota Batu Sangkar.

Lubang yang berada di Batu Batikam tersebut kononnya bekas di tikam / tusuk oleh keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang, yang menjadikan batu tersebut sebagai lambang perdamaian antara pemimpin yang berkuasa ketika itu, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan.

Di sekitar area tersebut, juga terdapat susunan bebatuan yang dahulunya dijadikan tempat untuk bermusyawarah oleh kepala suku. Suasananya memang agak terasa berbeda jika kita berkunjung kesana, apalagi terdapatnya sebuah pohon beringin yang sangat besar membuat aura mistis di sekitar Batu Batikam terlihat seram.

Untuk lebih lengkapnya mengenai Asal Usul Batu Batikam, berikut saya dapatkan dari Google.

Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan adalah dua orang saudara yang berlainan Bapak. Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah seorang sosok yang dilahirkan dari seorang Bapak yang memiliki darah aristokrat (cerdik pandai), sementara Datuak Katumanggungan adalah sosok yang dilahirkan dari seorang Bapak yang otokrat (raja-berpunya). Tetapi kedua diantara mereka lahir dari seorang rahim Ibu, dimana seorang wanita biasa seperti lainnya.

Datuak Parpatiah menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Namun Datuak Katumanggungan menginginkan rakyat diatur dalam tatanan yang hirarkhi “berjenjang sama naik, bertangga sama turun”. Dan karena perbedaan tersebut mereka berdua bertengkar hebat.

Untuk menghindari pertikaian dan tidak saling melukai, Datuak Parpatiah dan Datuak Katumanggungan kemudian menikam batu tersebut dengan keris sebagai pelampiasan emosinya.

Maka dari itu Batu Batikam memiliki sebuah lubang yang menembus dari arah sisi depan dan belakang.

Bisa di petik sebuah pelajaran yang sangat bermakna, dimana mengesampingkan rasa egoisme justru dapat mempersatukan dari perbedaan.

Share and Enjoy

1 Comment

  1. Fively says:

    mau nanya?
    setelah peristiwa batu batikam tsb, sistem pemerintahan yg dipakai yg mana?

Leave a Reply