17
  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Anto adalah salah satu pegawai yang cukup sibuk yang bekerja untuk salah satu perusahaan swasta terkemuka, sehingga seringkali ia pulang kerja hingga larut malam. Suatu ketika Anto pulang kerja, ternyata Budi (anaknya) yang masih kelas 2 SD membukakan pintu untuknya, dan sepertinya Budi memang sengaja menunggu ayahnya tiba di rumah. “Kok kamu belum tidur?”, sapa Anto setelah mencium keningnya. Budi menjawab,“Aku memang sengaja menunggu ayah pulang karena aku ingin bertanya, berapa sih gaji ayah?”. “Lho, kok kamu nanya gaji ayah sih?”, “Nggak, Budi cuma mau tahu aja ayah..”, timpal Budi. Ayahnya pun menjawab, “Kamu hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja 10 jam dan dibayar Rp.400.000, dan tiap bulan rata-rata ayah bekerja 25 hari. Hayoo.. jadi berapa gaji ayah dalam 1 bulan?”. Budi langsung bergegas mengambil pensilnya, sementara ayahnya melepas sepatu. Ketika Anto beranjak menuju kamar, Budi berlari mengikutinya.

Kemudian Budi menjawabnya, “Kalo 1 hari ayah dibayar Rp.400.000 untuk 10 jam, berarti 1 jam ayah digaji Rp.40.000 donk?”. “Pinter anak ayah sekarang ya.., sekarang kamu cuci kaki dan tidur ya”, jawab ayahnya. Tetapi, Budi tidak juga beranjak. Sambil memperhatikan ayahnya ganti pakaian, Budi kembali bertanya, “Ayah, boleh pinjam uang 5rb nggak?”. “Sudah, buat apa uang malam-malam begini?! Ayah capek, mau mandi dulu, sekarang kamu tidur!”, jawab ayahnya. Dengan wajah melas Budi menjawab, “Tapi ayah..”, ayahnya pun langsung menghardiknya, “Ayah bilang tidur!!”. Anak kecil itupun langsung berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Anto menyesali perbuatannya yang telah menghardik anaknya tersebut. Ia pun melihat kondisi anaknya tersebut. Dan ternyata, anak kesayangannya itu belum tidur. Ternyata Budi dilihatnya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000 di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala anaknya itu, Anto berkata, “Maafkan ayah ya nak. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kita beli ya. Jangankan minta 5rb, lebih dari itupun ayah kasih”. Budipun menjawab, “Ayah, aku nggak minta uang. Aku cuma mau minjem. Nanti aku kembalikan lagi setelah aku nabung minggu ini”. “Iya iya, tapi buat apa?”, tanya Budi dengan lembut. “Aku nunggu ayah dari jam 8 tadi, aku mau ngajak ayah main ular tangga. Cuma tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ternyata cuma ada Rp.15.000. tapi, karena ayah bilang ayah tiap 1 jam ayah digaji Rp.40.000, jadi setengah jamnya ayah digaji Rp.20.000. Uang tabunganku kurang 5rb, jadi makanya aku mau pinjam uang ayah 5rb”, jawab Budi dengan polos.

Anto pun terdiam, dan dipeluknya anak kecil itu erat-erat.. [the end]

Tulisan diatas saya dapatkan ketika lagi ngotak-ngatik komputer seorang teman saya, sayangnya teman saya itu lupa sumber tulisan tersebut. Menurut saya itu adalah cerita inspiratif, karena fenomena tersebut bisa saja terjadi diantara kita. Apalagi sulitnya kehidupan sekarang ini membuat kita harus bekerja extra keras (meskipun saya belum jadi orang tua, tapi saya bisa membayangkan betapa lelah dan susahnya cari uang), hingga kadang-kadang kita lupa terhadap sesuatu hal, atau orang-orang yang membutuhkan keberadaan kita ditengah-tengah mereka.

Kebersamaan bukanlah apa-apa dibanding dengan segalanya. Namun, kebersamaan tidak dapat di tukar dengan segalanya yang telah kita miliki .

Semoga bagi yang pernah, atau memang sedang mengalami kondisi tersebut (dalam posisi sebagai orang tua) bisa membuka mata lebar-lebar dan segera menyadari bahwa ada orang yang membutuhkan kasih sayang, komunikasi, perhatian dan kebersamaan. Dan jika posisinya sebagai si anak, kalaupun memang memiliki orang tua seperti cerita inspiratif diatas, “Tetaplah berfikir positif”. Karena bagaimanapun orang tua kamu bekerja mati-matian adalah hanya untuk untuk keluarga (termasuk kamu). Tetaplah menjalin komunikasi, kedekatan serta keterbukaan dengan orang tua agar kamu tetap bisa merasa nyaman, serta kamu menganggap bahwa “Keluarga saya adalah keluarga yang terindah!”.

Share and Enjoy

17 Comments

  1. niceklix says:

    tepat sekali mas! ceritanya sangat inspiratif dan menyentuh. waktu aku baca pertama kali, aku langsung nelpon keluargaku. hikhiks… aku baru sadar, kalo ternyata selama ini aku banyak meninggalkan mereka. thanks udah diingetin lagi

  2. andy says:

    @Niceklix : Sama2 Mas.., saya bisa merasakan gimana rasanya, karena saya dulu waktu kecil juga mirip2 kaya’ gini kisahnya. “Kebersamaan di tengah2 keluarga adalah segalanya Mas..”

  3. Dion tustian says:

    Setiap orang tua selalu paham apa yang terbaik buat buah hatinya,terkadang hal itu bukan bagian harapan buah hati seorang anak selain indahnya kebersamaan.

  4. yuni says:

    ceritanya bagusss bangettt :)

  5. kezia says:

    nah kadang byk ortu yg tdk mw trlbh dulu memahami mksd anaknya,,tp ttp mrk the best

  6. lita says:

    mantafff

  7. retno says:

    semoga crita yang di atas menjadikan saya lebih bijak menyikapi pemikiran anak-anak, dan tidak mengabaikan sesuatu yang sepertinya tidak berarti

  8. arif says:

    bagus sekali mas inspiratifnya,
    I like it, , ,
    makasih banyak mas suda mau menyumbangkan inspiratifnya buat kami semua, khususnya saya seorang anak yang belum tau banyak arti dari hidup.

  9. hanif says:

    super sekali..
    trims..

  10. naida fayla says:

    inspiratif banget…….

  11. Judi Santoso says:

    setuju tok pokok”e

  12. sofyan says:

    mas..bisa kirim ke email saya
    ispiratif bangets

  13. La Jamaa says:

    Kisah yg sgt inspiratif dlm menjalin kbersamaan terutama antara org tua dgn anaknya. Org tua seringkali menganggap kbahagiaan anak pd tumpukan materi shingga tdk meluangkn sdkit waktu untuk kbahagiaan anaknya. Pdahal anak sgt butuh perhatian dr orgtuanya. Kurgnya perhatian orgtua bs menjerumuskn anak kpd narkoba

    @La Jama : Bener banget Mas, itu fenomena yang paling sering saya temui. Banyak ortu yang menilai dengan materi si anak bisa bahagia. Tapi kenyataannya, materi justru membuatnya sebagai jembatan untuk menuju pelarian.

  14. caca says:

    saya pernah liat kisah itu di film Singapura, judulnya ‘I’m not Stupid 2′,pgn nangis klo igt itu…

Leave a Reply

Current ye@r *