Ternyata, menjadi anak kost memang harus benar-benar bisa mandiri. Meskipun saya sudah nge-kost sejak awal kuliah, namun kadang-kadang masih merasakan kerinduan dari belenggu-belenggu yang berhubungan dengan duka sebagai anak kost. Masalah mandiri, kalau mandi sendiri sih udah bisa, tapi untuk benar-benar mandiri secara total, bagaimanapun akan saya usahakan. Menerapkan budaya malu untuk minta ‘sangu’ sama orang tua sedang saya coba. Tapi yang jadi masalah, seiring naiknya bahan bakar, perlahan menunjukkan bahwa ternyata harga-harga barang lainnya juga tidak mau kalah. Secara logika itu adalah hal yang wajar, mengingat bahan bakar merupakan sumber penggerak dalam proses produksi serta distribusi, so mau tidak mau setiap perusahaan harus memutuskan diantara dua pilihan. Selain lebih efisiensi, menaikkan harga, atau gulung tikar melakukan pengurangan kuantitas mungkin menurut saya akan menjadi sebuah alternatif serta solusi untuk menghadapi fenomena saat ini.
Bicara tentang mie instant, sebagai anak kost mie instant termasuk salah satu sumber kehidupan. Mungkin bukan hanya anak kost, tetapi semua orang dari berbagai kalangan suka mengkonsumsi mie instant. Selain mudah dalam proses penyajiannya, harganya pun cukup berkompromi bagi saya. Meskipun cuma bisa menghilangkan lapar hanya kurang lebih dua jam, but it’s ok, itu kan cukup ampuh sebagai trik mengalihkan perhatian pikiran serta cacing dalam perut yang sudah sangat-sangat kelaparan
Terus terang, Saya baru mengetahui ternyata harga mie instant naik, karena sebelumnya stock waktu beli untuk bulan kemarin masih ada. Kemudian beberapa hari yang lalu, ketika saya beli mie di warung dekat tempat kost, untung mata saya nggak jatuh karena kaget dengan harganya dan selain itu saya menganggap harga mie tersebut naiknya lumayan juga sih. Mau tidak mau ya harus dibayar sambil dongkol, “Gw gak mau jajan mie disini lagi ah, mahal!!”. Dan hari ini, pas saya coba untuk beli mie instant pada tempat yang agak jauh dari tempat kost, karena penasaran berapakah sebenarnya harga mie instant saat ini (padahal sebenarnya berharap supaya dapet harga yang lebih murah), finally… perjuangan saya sia-sia. Ternyata harganya sama aja.
Saya sudah salah paham karena menganggap bahwa harga yang saya dapatkan pada warung pertama itu adalah mahal, padahal sebenarnya harga tersebut telah menjadi harga standar mie saat ini.
Huff…, nasib anak kost. Bagi anda yang senasib dengan saya, anda tidak perlu kaget lagi dengan kenaikan harga-harga makanan atau barang. Yang penting harus lebih efisiensi lagi, selain itu juga harus ngecilin perut meskipun perut sudah kecil & kempes



Categories :
Tags: 


wah pas saya kulya dulu malah saya sering makan nasi kucing,,hihihiiihih..ditemani kucing pula..hehe
sial, saya jadi jarang makan mie gara2 pas ngekos makan mie mulu. sampe sekarang aku dah tau rasa mie itu sebelum dimasak atau dihidangkan, jadi ya jarang deh sekarang beli mi instant
@Ika: Senasib kita dunk Ka
@Yudi: Saya juga pengennya sih begitu Mas Yudi, tapi ternyata nggak bisa. Mungkin ‘Mie Addict’ kali ya
wew… untung gak biasa makan mie, biasa makan nasi aking
ada tuh solusinya agar tetap murah dan tetep sarapan pake mie.
beli aja mie gelas. masih 700 perak…
(beneran, ngobati kangen sama mie yg udah mahall)
@Treen: Tapi ada yang lebih murah lho…, Makan dirumah tetangga aja
[...] kondisi sebagai Anak Kost yang masih selalu teringat dan senyum-senyum sendiri dengan pengaruh harga mie beberapa waktu lalu, maka dari itu justru harga tersebut mahal bagi saya. Selain itu, anak ayam [...]