Seperti benang yang kusut, itulah mungkin kondisi kita saat ini. Bukan hanya dari segi perekonomian saja, karena masih banyak hal yang harus dibenahi. Kalau bicara memang mudah, tapi kita bisa membayangkan bagaimana seandainya menjadi pemain. Tapi disini setidaknya masukan-masukan dari berbagai pihak bisa dijadikan pertimbangan dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jika dalam perekonomian, selain inflasi, ternyata yang menjadi kebutuhan utama saat ini menjadi satu kendala yang mungkin dialami bagi warga Sumbar-Riau. Krisis listrik yang dialami saat ini setidaknya juga akan mempengaruhi perekomian, karena bagaimanapun setiap unsur usaha sebagian besar menggunakan tenaga listrik.
Meskipun mungkin dampaknya tidak terlalu membawa petaka menjadi masalah, tapi rasa was-was yang menghantui benar-benar cukup untuk menguras kalori. Karena bagi yang mengalami pemadaman bergilir ini harus siap mengalami pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kalaupun ada informasinya, hanya kisaran waktunya saja. Itupun tidak bersifat mutlak. Karena seperti yang telah dialami beberapa hari ini, waktu pemadaman bergilir tidak selalu sesuai dengan yang diinformasikan. Di Kota Padang sendiri terkadang hampir sama dengan minum obat. Perbedaannya jika minum obat biasanya 3 x sehari, tapi pemadaman listrik bergilir bisa mengalami sampai 2 kali dalam satu hari.
Faktor penyebab serta sampai kapan ini terjadi secara khususnya saya juga belum tahu sampai kapan. Namun berdasarkan informasi yang ada bahwa PLTU yang memberikan kontribusi cukup besar yang berada di Ombilin tidak dapat beroperasi dengan maksimal sehingga mengalami krisis kurang lebih sebesar 200MW. Lumayan gede juga tuh.., anda bisa mengkalkulasikan seberapa besar daya tersebut untuk memenuhi kebutuhan orang banyak.
Bagi anda yang mungkin merasakan dampak dari pemadaman bergilir ini, selain harus siap-siap, kita juga hanya bisa bersabar. Harap maklum, karena secara kenyataannya hanya PLN yang bisa memenuhi kebutuhan terhadap tenaga listrik.
>>Orang sabar, di sayang Tuhan. Satu minggu, dua minggu, satu bulan, atau mungkin sampai bulan puasa?! Ya mbok sabar…



Categories :
Tags: 

