Pria itu buaya, benarkah?

Dasar buaya”, kata seorang wanita ketika sedang marah ataupun bercanda. Dua kata yang sering di ungkapkan oleh kaum hawa terhadap pria. Ungkapan tersebut seperti sebuah tagline bagi para laki-laki. Meskipun ini hanya sebuah konotasi terhadap pria, tapi apakah ini berlaku bagi semua laki-laki?! Saya sendiri nggak habis pikir kenapa image pria sering di gambarkan seperti istilah tersebut, seakan sebuah statement yang memiliki kebenaran ‘mutlak’.

Jika kamu adalah seorang pria, menurut six sense saya ketika kamu mendengar seorang cewek mengungkapkan hal tersebut di depan kamu ketika lagi marah ataupun lagi bercanda, biasanya respon kamu hanya dua. Pertama, cuma bisa diam (ketika dalam kondisi bersalah), atau justru membela diri dengan mengatakan “Nggak semua laki-laki buaya lho, bla bla bla..”. Minimal membuktikan untuk menutupi bahwa kamu buaya pendapat itu adalah salah dan kamu tidak termasuk seperti ungkapan tersebut.

Jika dipertanyakan kembali apakah ungkapan tersebut benar atau tidak, belum tentu benar! Meskipun fenomenanya kita sering menemukan bahwa laki-laki cukup banyak kasus (terutama dalam urusan tertentu yang berhubungan dengan hal ini), sebenarnya itu hanya orang-orang atau oknum tertentu saja. Ibarat kain putih yang telah ternoda, meskipun nodanya sedikit, tapi tetap saja kain tersebut kotor.

Kita bisa review kebelakang. Tanpa pria, nggak ada wanita. Begitupun sebaliknya, tanpa wanita juga nggak akan ada pria. Seperti yang ada di dunia ini, semua ada pasangannya. Dan jika kita memikirkan setiap objek atau kata-kata untuk pasangan yang tepat, pasangannya kata buaya itu apa? Bingung kan, pasangan yang tepat untuk buaya adalah ‘tergantung’. tergantung buayanya cewek atau cowok. Kalau cewek ya pasangannya buaya cowok, tapi kalau cowok ya pasangannya buaya cewek. Jadi kalau image pria adalah buaya, tidak jauh berbeda dengan cewek (sama-sama buaya).

Kesimpulannya, ya.. menurut saya (sebagai orang yang cukup sering di bilang buaya), ungkapan tersebut tidak selalu benar. Normal-nya, kalau ayam jantan nyeredeng mendekati sang betina karena suka, wajar lah. Atau logikanya, kucing tidak akan melahap tulang jika tulang tersebut berada pada posisi yang tidak bisa diraih. Tapi kalau tulangnya yang sengaja memberikan pertanda boleh dimakan oleh sang kucing, kalau kucingnya lapar pasti dilahap. Jadi.., laki-laki itu buaya belum tentu buaya.

Peace ya Bu.., Tante.., Mbak.., Dik.. :-)

Picture source : Cerpen

Related Post : You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Pria itu buaya, benarkah?”

  1. [...] membeli 7 potong pakaian (termasuk celana), namun ia terus mencari dan mencari seolah ia seperti sang buaya yang sangat lapar. Seketika itu, terjadilah percakapan antara Panji dan [...]

Leave a Reply